Mengenal Sejarah Sunda

Mengenal Sejarah Sunda
Sejarah Kerajaan Sunda

Mengenal Sejarah Sunda
Di wilayah Jawa Barat Muncul kerajaan Sunda yang diduga merupakan kelanjutan dari Kerajaan Tarumanegara yang runtuh pada abad ke-7. Menurut kitab Carita Parahiyangan, sebenarnya lahirnya Tarumanegara telah didahului oleh sebuah kerajaan yang bernama Salakanagara yang beribukota di Rajataputra. Kerajaan salakanagara sebelum diperintah oleh raja Dewawarman (Dharmalokapala) merupakan sekumpulan pedukuhan kecil-kecil yang dikuasai oleh Aki Tirem. Namun,sayang sekali sumber sejarah lain tidak ada yang menguatkannya sehingga keberadaan kerajaan tersebut masih diragukan.

Rujukan Awal Nama Sunda Sebagai Sebuah Kerajaan Tertulis Dalam Prasasti Kebon Kopi II Tahun 458 Saka (536 Masehi).[1] Prasasti Itu Ditulis Dalam Aksara Kawi, Namun, Bahasa Yang Digunakan Adalah Bahasa Melayu Kuno. Prasasti Ini Terjemahannya Sebagai Berikut: Batu Peringatan Ini Adalah Ucapan Rakryan Juru Pangambat, Pada Tahun 458 Saka, Bahwa Tatanan Pemerintah Dikembalikan Kepada Kekuasaan Raja Sunda.

Beberapa Orang Berpendapat Bahwa Tahun Prasasti Tersebut Harus Dibaca Sebagai 854 Saka (932 Masehi) Karena Tidak Mungkin Kerajaan Sunda Telah Ada Pada Tahun 536 AD, Di Era Kerajaan Tarumanagara (358-669 AD ). Rujukan Lainnya Kerajaan Sunda Adalah Prasasti Sanghyang Tapak Yang Terdiri Dari 40 Baris Yang Ditulis Pada 4 Buah Batu. Empat Batu Ini Ditemukan Di Tepi Sungai Cicatih Di Cibadak, Sukabumi. Prasasti-Prasasti Tersebut Ditulis Dalam Bahasa Kawi. Sekarang Keempat Prasasti Tersebut Disimpan Di Museum Nasional Jakarta, Dengan Kode D 73 (Cicatih), D 96, D 97 Dan D 98. Isi Prasasti (Menurut Pleyte):

Perdamaian Dan Kesejahteraan. Pada Tahun Saka 952 (1030 M), Bulan Kartika Pada Hari 12 Pada Bagian Terang, Hari Hariang, Kaliwon, Hari Pertama, Wuku Tambir. Hari Ini Adalah Hari Ketika Raja Sunda Maharaja Sri Jayabupati Jayamanahen Wisnumurti Samarawijaya Sakalabuwanamandaleswaranindita Haro Gowardhana Wikramattunggadewa, Membuat Tanda Pada Bagian Timur Sanghiyang Tapak Ini. Dibuat Oleh Sri Jayabupati Raja Sunda. Dan Tidak Ada Seorang Pun Yang Diperbolehkan Untuk Melanggar Aturan Ini. Dalam Bagian Sungai Dilarang Menangkap Ikan, Di Daerah Suci Sanghyang Tapak Dekat Sumber Sungai. Sampai Perbatasan Sanghyang Tapak Ditandai Oleh Dua Pohon Besar. Jadi Tulisan Ini Dibuat, Ditegakkan Dengan Sumpah. Siapa Pun Yang Melanggar Aturan Ini Akan Dihukum Oleh Makhluk Halus, Mati Dengan Cara Mengerikan Seperti Otaknya Disedot, Darahnya Diminum, Usus Dihancurkan, Dan Dada Dibelah Dua.

Raja-raja Kerajaan Sunda-Galuh s/d Pajajaran
Di bawah ini deretan raja-raja yang pernah memimpin Kerajaan Sunda menurut naskah Pangéran Wangsakerta (waktu berkuasa dalam tahun Masehi):

Tarusbawa (menantu Linggawarman, 669 – 723)
Harisdarma, atawa Sanjaya (menantu Tarusbawa, 723 – 732)
Tamperan Barmawijaya (732 – 739)
Rakeyan Banga (739 – 766)
Rakeyan Medang Prabu Hulukujang (766 – 783)
Prabu Gilingwesi (menantu Rakeyan Medang Prabu Hulukujang, 783 – 795)
Pucukbumi Darmeswara (menantu Prabu Gilingwesi, 795 – 819)
Rakeyan Wuwus Prabu Gajah Kulon (819 – 891)
Prabu Darmaraksa (adik ipar Rakeyan Wuwus, 891 – 895)
Windusakti Prabu Déwageng (895 – 913)
Rakeyan Kamuning Gading Prabu Pucukwesi (913 – 916)
Rakeyan Jayagiri (menantu Rakeyan Kamuning Gading, 916 – 942)
Atmayadarma Hariwangsa (942 – 954)
Limbur Kancana (putera Rakeyan Kamuning Gading, 954 – 964)
Munding Ganawirya (964 – 973)
Rakeyan Wulung Gadung (973 – 989)
Brajawisésa (989 – 1012)
Déwa Sanghyang (1012 – 1019)
Sanghyang Ageng (1019 – 1030)
Sri Jayabupati (Detya Maharaja, 1030 – 1042)
Darmaraja (Sang Mokténg Winduraja, 1042 – 1065)
Langlangbumi (Sang Mokténg Kerta, 1065 – 1155)
Rakeyan Jayagiri Prabu Ménakluhur (1155 – 1157)
Darmakusuma (Sang Mokténg Winduraja, 1157 – 1175)
Darmasiksa Prabu Sanghyang Wisnu (1175 – 1297)
Ragasuci (Sang Mokténg Taman, 1297 – 1303)
Citraganda (Sang Mokténg Tanjung, 1303 – 1311)
Prabu Linggadéwata (1311-1333)
Prabu Ajiguna Linggawisésa (1333-1340)
Prabu Ragamulya Luhurprabawa (1340-1350)
Prabu Maharaja Linggabuanawisésa (yang gugur dalam Perang Bubat, 1350-1357)
Prabu Bunisora (1357-1371)
Prabu Niskalawastukancana (1371-1475)
Prabu Susuktunggal (1475-1482)
Jayadéwata (Sri Baduga Maharaja, 1482-1521)
Prabu Surawisésa (1521-1535)
Prabu Déwatabuanawisésa (1535-1543)
Prabu Sakti (1543-1551)
Prabu Nilakéndra (1551-1567)
Prabu Ragamulya atau Prabu Suryakancana (1567-1579)

Kehidupan Politik Kerajaan Sunda
Menurut Tome Pires, Kerajaan Sunda Diperintah Oleh Seorang Raja. Raja Tersebut Berkuasa Atas Raja-Raja Di Daerah Yang Dipimpinnya. Tahta Kerajaan Diberikan Secara Turun Temurun Kepada Anaknya. Akan Tetapi, Apabila Raja Tidak Memiliki Anak Maka Yang Menggantikannya Adalah Salah Seorang Raja Daerah Berdasarkan Hasil Pemilihannya.

Kehidupan Sosial Kerajaan Sunda
Didalam Naskah Sanghyang Siksakandang Karesian Didapat Penjelasan Bahwa Masyarakat Kerajaan Sunda Umumnya Adalah Masyarakat Peladang. Masyarakat Ini Memiliki Ciri Menonjol Seperti Selalu Berpindah Tempat Dan Rasa Kebersamaannya Agak Longgar Apabila Dibandingkan Dengan Masyarakat Sawah Yang Menetap.

Pola Berpindah Tempat Dalam Masyarakat Peladang Berlangsung Karena Tanah Garapan Dipandang Tidak Subur Lagi Untuk Digarap. Oleh Sebab Itu Perlu Membuka Kembali Hutan Baru Untuk Berladang. Caranya Dengan Menebangi Pohon, Membiarkannya Mengering Dan Terakhir Menanami Area Itu Dengan Berbagai Macam Tanaman. Perpindahan Tempat Berladang Seperti Tersebut Tidak Menumbuhkan Tradisi Untuk Membangun Aneka Bangunan Permanen. Baik Sebagai Tempat Tinggal / Tempat Pemujaan. Itulah Sebabnya Didaerah Jabar Tidak Ditemukan Candi Yang Banyak Seperti Di Jateng Atau Di Jatim.

Kehidupan Ekonomi Kerajaan Sunda
Kerajaan Sunda Adalah Kerajaan Yang Masyarakatnya Hidup Dari Pertanian, Hasil Pertaniannya Menjadi Pokok Bagi Pendapat Kerajaan. Aneka Hasil Pertanian Seperti Lada, Asam, Beras, Sayur Mayur Dan Buah-Buahan Banyak Dihasilkan Masyarakat Kerajaan Sunda, Selain Itu, Ada Juga Golongan Peternak Sapi, Kambing, Biri-Biri Dan Babi Adalah Hewan Yang Banyak Diperjualbelikan Di Bandar-Bandar Pelabuhan Kerajaan Sunda.
Menurut Tom Pires, Kerajaan Sunda Memiliki Enam Buah Pelabuhan Penting Yang Masing-Masing Di Kepalai Oleh Seorang Syahbandar. Mereka Bertanggungjawab Kepada Raja Dan Bertindak Atas Nama Raja Di Masing-Masing Pelabuhan, Banten, Pontang, Cigede, Tomgara, Kalapa Dan Cimanuk Adalah Pelabuhan-Pelabuhan Yang Dimiliki Kerajaan Sunda.

Kehidupan Budaya Kerajaan Sunda
Kitab Carita Parahyangan Dan Serta Dewabuda Memberi Petunjuk Bahwa Masyarakat Kerajaan Sunda Banyak Mendapat Pengaruh Budaya Hindu Dan Budha. Kedua Budaya Itu Selanjutnya Berbaur Dengan Unsur Budaya Leluhur Yang Telah Ada Sebelumnya.

Keruntuhan Kerajaan Sunda
Sapeninggal Jayadéwata, Kekuasaan Sunda-Galuh Turun Ke Putranya, Prabu Surawisésa (1521-1535), Kemudian Prabu Déwatabuanawisésa (1535-1543), Prabu Sakti (1543-1551), Prabu Nilakéndra (1551-1567), Serta Prabu Ragamulya Atau Prabu Suryakancana (1567-1579). Prabu Suryakancana Ini Merupakan Pemimpin Kerajaan Sunda-Galuh Yang Terakhir, Sebab Setelah Beberapa Kali Diserang Oleh Pasukan Maulana Yusuf Dari Kesultanan Banten, Mengakibatkan Kekuasaan Prabu Surya Kancanadan Kerajaan Pajajaran Runtuh.
Semoga apa yang kami ulas dapat bermanfaat, Sekian dan Terimakasih :).

Penulis : redaksi

Editor : Almasytha Suroto