Atap Tertinggi Jawa Barat

Atap Tertinggi Jawa Barat
Keindahan Gunung Ceremai - Atap Tertinggi Jawa Barat

Kabar Sunda-Gunung Ceremai adalah gunung berapi kerucut yang secara administratif termasuk dalam wilayah dua kabupaten, yakni Kabupaten Kuningan dan Kabupaten Majalengka, Provinsi Jawa Barat. Posisi geografis puncaknya terletak pada 6° 53' 30" LS dan 108° 24' 00" BT, dengan ketinggian 3.078 m di atas permukaan laut. Gunung ini merupakan gunung tertinggi di Jawa Barat.
Gunung Ciremai adalah gunung yang mempunyai banyak keindahan yang banyak di lirik oleh banyak pendaki di luar sana.

Ciremai juga terkenal karena aroma mistisnya karena memiliki banyak situs-situs yang kerap dijadikan lokasi ritual. Ciremai memiliki segudang cerita-cerita mistis, serta pantangan-pantangan yang tak boleh dilanggar jika berada di Ciremai. 
detikTravel beberapa waktu lalu mencoba Jalur Palutungan di Kabupaten Kuningan. Terdapat dua jalur populer lainnya, yakni Linggarjati dan Apuy di Kabupaten Majalengka dan ketiganya memiliki keunggulan dan kekurangan masing-masing.

Linggarjati misalnya, selama ini jadi jadi akses paling dekat dari Kota Cirebon di ketinggian 600 mdpl atau yang paling jauh dari puncak. Jalur ini diuntungkan dengan transportasi yang relatif cukup mudah, namun pendaki harus dihadapkan dengan treknya yang sangat panjang dengan waktu tempuh normal selama kurang lebih 12 jam.


Bandingkan dengan Palutungan yang berada di ketinggian 1.100 mdpl. Jika lewat Palutungan, jalurnya relatif lebih pendek, yakni sekitar 8 jam. Sementara Apuy lokasinya lebih dekat lagi dengan puncak, bisa diselesaikan pendaki hanya dalam waktu sekitar 6-7 jam.
Kendati begitu, baik Apuy maupun Palutungan, jaraknya cukup jauh dari Kota Cirebon, serta tak ada angkutan umum langsung yang menuju basecamp dua jalur tersebut. Jika dari arah Jakarta, sangat disarankan memilih bus ketimbang kereta api, karena banyak trayek bus yang menuju langsung ke Kuningan maupun Majalengka. 

Selesai mengurus administrasi di kantor pengelola Taman Nasional Gunung Ciremai di Palutungan, kita bisa langsung mengurus persiapan logistik. Jangan khawatir, di Palutungan banyak warung yang menjual makanan hingga peralatan pendakian di sana yang sangat membantu selama mempersiapkan kebutuhan logistik. 

Omong-omong soal biaya, tarif yang ditetapkan pengelola cukup mahal, yakni Rp 55.000. Namun begitu, tiket tersebut bisa ditukar dengan sekali makan di warung-warung yang ada di sekitar basecamp. Selain itu, pendaki juga diberikan sertifikat lho.

Dari Palutungan, ada 8 pos yang dilewati hingga ke puncak. Perjalanan dari jalur ini cukup melelahkan, namun akan terbayar dengan pemandangan yang sangat mengibur mata dan mengilangkan penat. Waktu pagi hari, sekitar pukul 07.00 WIB adalah waktu yang paling pas memulai pendakian, ini agar pendaki bisa mencapai Pos Pesanggrahan yang menjadi lokasi paling ideal untuk mendirikan tenda pada sore harinya.

Dari basecamp hingga pos pertama traveler akan melewati jalan aspal, persawahan, dan peternakan sapi milik warga sebelum memasuki area hutan produksi berupa hutan pinus. Perjalanan menuju pos pertama sendiri merupakan jalur terpanjang yang mencapai 4 km. Namun jalur tersebut relatif landai, sehingga jadi jalur pemanasan sebelum trek menanjak yang sebenarnya selepas pos pertama.

Jika ingin menghemat energi, disarankan tak perlu membawa air terlalu banyak dari basecamp. Ini karena di Pos 1 atau Cigowong, terdapat mata air yang tak pernah kering sepanjang tahun, meski saat kemarau sekalipun. Jangan heran di pos pertama pula terdapat warung makan lho yang menyediakan jajalan gorengan, air mineral, semangka, kopi hingga nasi rames. 

Pengelolanya adalah para ranger Ciremai yang rutin bolak-balik ke pos satu dengan motor trail mereka. Dari sisi harga, selisihnya tak terlalu jauh dengan warung di basecamp, jadi jangan khawatir kantong jebol hanya untuk jajan sekadarnya di warung ini. Selain warung, pos pertama juga difasilitasi MCK dan musala yang cukup besar. 

Setelah beristirahat sejenak di Cigowong, barulah perjalanan sesungguhnya dimulai. Pos pertama hingga Pos 2 didominasi hutan belantara berlumut dan cukup gelap karena tutupan kanopi pepohonan besar begitu pula menuju Pos 3. Treknya jalan tanah dengan sedikit tanjakan. Pendaki bahkan bisa berlari di jalur yang bisa dianggap sebagai pemanasan ini. Tiga pos berturut-turut yang dilewati di etape ini adalah Pos Kuta, Pos Badak, dan Pos Arban.

Pendaki baru menghadapi trek terjal mulai dari Tanjakan Asoy di Pos 5. Namun, meski curam dengan kemiringan sekitar 45 derajat, treknya bisa dilalui dengan mudah. Pijakan tanahnya cukup lebar dengan akar-akar pohon yang bisa jadi pegangan, sehingga tanjakan ini bukan rintangan berarti, kecuali bagi mereka yang membawa beban berlebih. 

Selepas Tanjakan Asoy, tenaga pendaki bakal terkuras hingga Pos Pesanggrahan yang biasanya dipilih jadi tempat berkemah. Jalurnya cukup panjang dengan kontur menanjak membuat pendaki harus pintar-pintar mengatur nafas dan persediaan air, mengingat jalan ke puncak usai dari Pesanggrahan adalah trek tersulit di Jalur Palutungan ini.

Butuh setidaknya 4-5 jam perjalanan dari Pos 1 hingga Pesanggrahan. Jika beruntung, pendaki bisa melihat Lutung Jawa yang bergelantungan di pepohonan. Karena hidup berkelompok, spesies kera ekor panjang ini kerap mengeluakan suara untuk berkomunikasi dengan teman-temannya. Suara mereka sangat nyaring dan mudah dikenali, jadi jangan heran jika mendengar suara lolongan panjang di tengah hutan belantara. 

Di Pesanggrahan pula, ada banyak tanah lapang yang bisa dipilih jadi tempat mendirikan tenda. Disarankan bagi pendaki untuk mendirikan camp jauh dari semak dan berdekatan dengan tenda pendaki lainnya. Ini mengingat banyak gerombolan babi hutan yang kerap menyatroni tenda saat tengah malam. Tak jarang hewan dengan sebutan celeng ini nekat masuk ke tenda karena mencium bau makanan yang dibawa pendaki.

Mungkin itulah sedikit penjelasan tentang Puncak tertinggi Jawa Barat. Sekian dan terima kasih.

Penulis : redaksi

Editor : Almasytha Suroto