Scroll untuk baca artikel
Example 325x300
Example floating
Example floating
Berita

Pilwalkot Bandung Masih Lama, Spanduk Kampanye Sudah Menjamur

13
×

Pilwalkot Bandung Masih Lama, Spanduk Kampanye Sudah Menjamur

Share this article
Spanduk kampanye yang bikin polusi visual di Bandung.
Example 468x60

 

KabarSunda.com — Kendati Pilkada 2024 masih berjarak beberapa bulan, spanduk wajah bakal calon Wali Kota Bandung telah menyemarakkan berbagai sudut kota sejak pertengahan tahun ini. Wajah dan nama mereka menghiasi median dan tepi jalan, meskipun belum ada kepastian mereka akan maju dalam kontestasi Pilwalkot dan Pilgub pada November 2024.

Example 300x600

Spanduk-spanduk tersebut tidak hanya menghiasi billboard besar, tetapi juga diikat pada tiang-tiang lampu lalu lintas dan menyatu dengan spanduk iklan lainnya di tepi jalan. Bahkan, beberapa spanduk diikatkan pada pohon, dan di sekitar Jalan Banceuy, terlihat spanduk berukuran jumbo dengan pigura bambu melintang menutup trotoar. Spanduk calon yang batal maju pun masih terpajang tanpa izin resmi.

Spanduk-spanduk yang dipasang sembarangan ini menampilkan wajah penuh senyuman, nama calon, slogan, atau janji-janjinya jika terpilih. Namun, cara pemasangan seperti ini sering kali menimbulkan sampah visual menjelang pemilihan.

Dikutip dari Detik.com, Fenomena ini dianggap sebagai polusi visual, yang merujuk pada segala sesuatu yang mengganggu pemandangan dan keindahan suatu kawasan. Polusi visual ini dikeluhkan oleh sejumlah warga Kota Bandung, seperti Aisya (27), seorang pejalan kaki yang melintas di Jalan Banceuy. Hari itu, ia berencana menuju kawasan Cikapundung dari arah Jalan ABC.

Aisya merasa terganggu dengan kondisi trotoar yang sesak oleh spanduk. Ia akhirnya memilih berjalan di sisi ruas jalan depan pertokoan. “Lewat spanduk itu susah, tiangnya di tengah trotoar, ada spanduk besar. Jadi menghalangi dan tidak bagus,” keluhnya.

“Apalagi saat akhir pekan, banyak orang parkir di Jalan ABC dan berolahraga di Braga. Bayangkan bagaimana tambah sesak dan tidak apik dilihat orang luar,” lanjut Aisya.

Iin Solihin (45), seorang pengendara motor, menilai bahwa media spanduk untuk kampanye dan sosialisasi tidak efektif. Menurutnya, spanduk-spanduk ini hanya akan menumpuk menjadi sampah. “Nggak efektif, orang cuma lewat. Di traffic light sih, bikin tahu nama atau wajahnya, tapi nggak bikin kepingin milih. Jadi cuma jadi sampah,” ucapnya.

Tumpukan polusi visual di Kota Bandung ini sudah terlihat meskipun belum waktunya memasang alat peraga kampanye (APK). Koor Divisi Penanganan Pelanggaran Data dan Informasi Bawaslu Kota Bandung, Indra Prasetyo Hardian, menjelaskan bahwa spanduk dan APK seharusnya baru dipasang serentak ketika tahapan kampanye dimulai pada 25 September hingga 23 November 2024.

“Kalau sekarang sudah banyak yang dipasang oleh bakal calon di tempat-tempat yang dilanggar, seharusnya pemerintah tegas menertibkannya. Karena Bawaslu belum bisa menyatakan mereka calon wali kota atau gubernur, karena pendaftarannya baru dibuka 27-29 Agustus,” ujar Indra.

Example 300250
Example 120x600

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *