KabarSunda.com- Badan Geologi melakukan pemodelan kejadian bencana longsor yang menimbun beberapa kampung di Desa Pasirlangu, Kecamatan Cisarua, Kabupaten Bandung Barat, pada Sabtu, 24 Januari 2026.
Hasil pemodelan menunjukkan potensial energi terkumpul dan tertahan pada lereng atas dan tengah sehingga daya gerus air atau erosi terhadap lereng lembah sungai sangat kuat dan membuat lereng sungai berbentuk V.
“Dari simulasi model, hanya perlu 1.500 detik atau sekitar 20-25 menit waktu yang ditempuh material debris dari lereng atas hingga bawah,” kata Pelaksana Harian Kepala Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG) Badan Geologi Edi Slameto di kantornya, Jumat, 30 Januari 2026.
Sementara dari hasil pengamatan di lapangan oleh peneliti diketahui sedikitnya terjadi 2-3 kali suplai material longsor ke arah landaan. Terindikasi pula energi cukup besar yang menggerosi bagian lembah.
Hal itu, menurut Edi, dapat dilihat dari dominasi material landaan berupa tanah dan bongkah dengan batuan yang berasal dari material lama rombakan.
Terkait mekanisme longsor, Edi mengatakan gerakan tanah berkembang ketika material longsoran bercampur dengan air membentuk aliran bahan rombakan atau debris yang bergerak mengikuti lembah kemudian tersebar pada area landaan pada bawah lereng.
Proses longsoran berasosiasi dengan aliran material dan potensi suplai air yang sangat besar pada bagian hulu.
“Perbedaan karakteristik produk vulkanik dari periode letusan yang berbeda berpotensi membentuk bidang gelincir pada material batuan yang mudah tergerus atau patah dan terangkut dalam jumlah besar,” ujarnya.
Pada kondisi jenuh karena berada pada area lembah, residu tanah yang tebal pelapukan dari endapan piroklastik tua Gunung Bungrangrang kehilangan kekuatan geser.
Tingkat pelapukan yang tinggi menyebabkan penurunan kuat geser tanah dan batuan sehingga lereng menjadi sangat rentan.
”Curah hujan ekstrem lebih dari 220 milimeter per hari membuat terjadinya peningkatan tekanan air pori, penurunan kuat geser tanah, dan terjadinya kegagalan lereng,” kata Edi.
Dia mengatakan tipe gerakan tanah pada bencana longsor Cisarua adalah longsoran yang berubah menjadi aliran bahan rombakan (debris flow) dengan dominasi material batu, lumpur, dan tanah lempung-pasir.
Gawir mahkota teridentifikasi jelas pada ketinggian 2.000 meter dari permukaan laut dengan tinggi sekitar 80 dan lebar sekitar 40 meter.
”Dengan panjang aliran (longsor) hingga 3 kilometer,” ujar Edi.
Perbedaan tinggi hulu longsoran dan area landaan sekitar 800 meter dengan kemiringan lereng yang terjal. Adapun panjang aliran longsor pada bagian atas lereng mencapai 1,7 kilometer yang teridentifikasi dari beberapa zona hutan yang tergerus oleh aliran debris.
Selebihnya atau kurang dari 2 kilometer, longsor mengalir ke sebagian besar lahan pertanian dan pemukiman pada jalur sungai yang mengalami kerusakan akibat penumpukan material debris.
”Material debris bergerak ke arah selatan lalu berkembang menjadi aliran mengikuti alur sungai berbelok menuju ke barat. Terjadi limpasan penyimpangan aliran bahan rombakan ke arah selatan karena terjadi overflow material,” kata Edi.
Menurut keterangan dari kantor SAR Bandung, hingga Kamis, 29 Januari 2026, pukul 16.30 WIB, total korban yang telah berhasil dievakuasi sebanyak 55 kantong dengan estimasi jumlah korban sekitar 25 jenazah.
Lebih dari 50 keluarga atau 150 jiwa lebih terdampak longsor itu. Tim SAR gabungan masih mencari puluhan korban yang hilang.