Acara inti dimulai dengan Babak Pertama yang menyajikan sejarah filosofis angklung, dibuka dengan "Rajah" oleh tokoh adat Bah Edih, serta penampilan Angklung Buhun dan Babarongan.
Segmen ini menggambarkan transformasi angklung dari instrumen ritual menjadi seni pertunjukan global. Puncak acara ditandai dengan peresmian "Udjo Ecoland Angklung Living Museum" yang dilakukan melalui penandatanganan prasasti oleh Ketua DPRD Jabar dan disaksikan langsung oleh Kakanwil Kemenkum Jabar.
Sebagai simbolisasi harmoni, Asep Sutandar bersama tamu VIP lainnya turut menggetarkan "Angklung Ubrug" secara serentak.
Dalam momen ini, Asep Sutandar menekankan bahwa kehadiran Living Museum ini sangat relevan dengan misi Kemenkumham dalam mencatatkan dan melindungi ekspresi budaya tradisional agar memiliki nilai ekonomi yang berkelanjutan.
Ery Kurniawan selaku Kabid Pelayanan KI turut memastikan bahwa aspek legalitas kekayaan intelektual menjadi fondasi utama dalam pengembangan kawasan ini.
Tidak hanya berfokus pada seni, kegiatan ini juga mengusung semangat regenerasi dan pelestarian lingkungan. Kakanwil dan Ibu Herlina tampak antusias menyaksikan penampilan grup "Arumba Cicit Udjo" dan kolaborasi angklung pelajar SD, yang menunjukkan keberhasilan transfer nilai budaya kepada generasi penerus. Rangkaian acara kemudian dilanjutkan dengan aksi nyata penanaman pohon di area konservasi Ecoland sebagai simbol kepedulian terhadap lingkungan. Kunjungan kerja yang sarat makna ini ditutup dengan sesi "Pesta Rakyat", di mana grup musik Babendjo (Bambu Band Udjo) menghibur rombongan Kemenkum Jabar dalam suasana ramah tamah yang hangat, mempererat sinergi antara pemerintah, legislatif, dan pelaku seni budaya di Jawa Barat.