Langsung ke konten
Global - Leaderboard Header
Budaya

Duta Batik Jabar 2026: Batik sebagai Identitas Bangsa, Momentum Lestarikan Budaya

Apresiasi Pemerintah Kota Bandung dan Disparbud Jabar terhadap Pemilihan Duta Batik Jabar 2026 sebagai momentum pelestarian budaya dan penguatan ekonomi kreatif.

Redaksi
Batik merupakan warisan budaya sekaligus mendorong pengembangan industri batik dan ekonomi kreatif.
Batik merupakan warisan budaya sekaligus mendorong pengembangan industri batik dan ekonomi kreatif.

KabarSunda.com– Pemerintah Kota Bandung mengapresiasi penyelenggaraan Grand Final Pemilihan Duta Batik Yayasan Batik Jawa Barat 2026 sebagai upaya melestarikan warisan budaya sekaligus mendorong pengembangan industri batik dan ekonomi kreatif.

‎Wali Kota Bandung, Muhammad Farhan, menyampaikan apresiasi tersebut saat memberikan sambutan pada Grand Final Pemilihan Duta Batik Yayasan Batik Jawa Barat 2026 di Auditorium Radio Republik Indonesia (RRI) Bandung, Rabu 23 Oktober 2026.

‎Farhan mengatakan, batik memiliki kedudukan penting sebagai identitas budaya bangsa yang terus berkembang mengikuti perubahan zaman. 

Menurutnya, berbagai upaya untuk mengembangkan motif batik khas daerah yang dilakukan sejumlah kota dan kabupaten pada periode 2010 hingga 2012 merupakan kompetisi positif yang patut diapresiasi.

‎“Tidak semua mungkin berhasil, namun tanpa upaya tersebut, tidak akan ada yang berkembang. Semangat ini patut kita hargai,” ujar Farhan dalam acara sambutan pada Grand Final Pemilihan Duta Batik Yayasan Batik Jawa Barat 2026 di Auditorium Radio Republik Indonesia (RRI) Bandung, Rabu 23 Oktober 2026.

‎Ia menuturkan, pandangan masyarakat terhadap batik juga mengalami perubahan signifikan. Jika dahulu batik identik dengan pakaian resmi dan acara tertentu, kini batik dapat dikenakan dalam berbagai kesempatan.

‎Farhan mengenang pengalamannya mengenakan kemeja batik sederhana pada 2003 yang saat itu masih dianggap tidak lazim oleh sebagian masyarakat. Perubahan besar terjadi setelah UNESCO menetapkan batik sebagai Warisan Budaya Takbenda Kemanusiaan pada 2 Oktober 2009.

‎Sejak pengakuan tersebut, batik tidak hanya semakin dikenal sebagai karya seni dan warisan budaya, tetapi juga berkembang menjadi industri yang memberikan manfaat ekonomi bagi masyarakat.

‎“Ini membuktikan bahwa warisan budaya, ketika dijaga dan dikembangkan bersama, akan memberikan manfaat yang luar biasa untuk generasi mendatang,” katanya.

‎Sementara itu, Kepala Dinas Pariwisata dan Kebudayaan (Disparbud) Provinsi Jawa Barat, Iendra Sofyan, mengatakan pengembangan batik harus dilakukan melalui empat pilar pemajuan kebudayaan, yakni perlindungan, pengembangan, pemanfaatan, dan pembinaan.

‎Menurut Iendra, pilar perlindungan menjadi dasar untuk menjaga keberadaan batik sebagai warisan budaya melalui pengakuan, regulasi, dan berbagai kebijakan pelestarian.

Adapun pilar pengembangan dilakukan melalui inovasi dan pemanfaatan teknologi. Ia mencontohkan penggunaan kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI) dalam membantu proses perancangan motif batik, sehingga kreativitas dan pengetahuan membatik dapat terus berkembang dan diwariskan kepada generasi berikutnya.

‎“Batik terus berkembang pesat. Inovasi melalui pemanfaatan teknologi dapat membantu proses perancangan motif, sehingga pengetahuan ini dapat diwariskan kepada generasi mendatang,” ungkapnya.

‎Iendra menambahkan, pemanfaatan batik juga perlu diperluas agar tidak hanya menjadi bagian dari gaya hidup masyarakat, tetapi turut memperkuat sektor ekonomi kreatif di Jawa Barat.

‎Salah satu upaya yang tengah direncanakan Pemerintah Provinsi Jawa Barat bersama Pemerintah Kota Bandung adalah penataan kawasan Cihampelas untuk dikembangkan menjadi pusat ekonomi kreatif yang terintegrasi.

‎Kawasan tersebut diharapkan tidak hanya dikenal sebagai pusat fesyen, tetapi juga menjadi ruang bagi pengembangan kuliner, aktivitas digital, pertunjukan seni, dan sentra batik.

‎“Insya Allah, bersama Bapak Komar dan Ibu Dendy, kami berencana membuka sentra batik di sepanjang kawasan Cihampelas, sehingga keberadaannya semakin lengkap,” katanya.

‎Selain perlindungan, pengembangan, dan pemanfaatan, pilar pembinaan juga terus dilakukan melalui pelatihan serta pendidikan membatik di sejumlah daerah, antara lain Cirebon, Garut, dan Bandung. Program tersebut direncanakan diperluas ke Bogor.

‎Iendra menilai, penyelenggaraan Pemilihan Duta Batik Jawa Barat 2026 menjadi salah satu bentuk nyata pelibatan generasi muda dalam menjaga keberlanjutan budaya batik.

‎Ia berharap para peserta tidak hanya menjadi representasi dalam mempromosikan batik, tetapi juga memahami nilai budaya yang terkandung di dalamnya serta mampu mendorong inovasi dan daya saing batik Jawa Barat di pasar nasional maupun internasional.

‎" Melalui keterlibatan generasi muda, batik diharapkan terus berkembang sebagai identitas budaya sekaligus kekuatan ekonomi kreatif yang mampu memberikan manfaat bagi masyarakat," tandasnya.

Pilihan Lain

Berita Terkait

Lihat Semua