Ini 9 Jurusan Kuliah IPS yang Lulusannya Sulit Cari Kerja Sesuai Bidangnya

KabarSunda.com- Seringkali di dunia kerja, seorang mahasiswa justru bekerja tak sesuai jurusan kuliahnya.

Bahkan ada juga mahasiswa yang kesulitan mencari pekerjaan sesuai jurusan kuliahnya. Di Indonesia, banyak lulusan perguruan tinggi ternyata bekerja di bidang yang jauh berbeda dari saat ia kuliah.

Istilah bagi seseorang yang bekerja tak sesuai bidang kuliahnya disebut underemployment atau ketidaksesuaian antara jurusan kuliah dan pekerjaan yang dijalani saat ini.

Tak cuma di Indonesia, fenomena underemployment menjadi tantangan serius bagi dunia kerja global.

Contohnya di Amerika Serikat, ada data yang menunjukkan lebih dari separuh lulusan dari jurusan-jurusan tertentu terjebak dalam pekerjaan yang justru tak sesuai gelar akademiknya.

Misalnya lulusan S1, mendapat pekerjaan yang bisa dilakukan lulusan SMA. Mereka sulit cari kerja karena kurangnya lowongan kerja yang mencakup kebutuhan lulusan S1.

Singkatnya, fenomena ini terjadi saat para fresh graduate jenjang S1 menerima jenis pekerjaan yang tidak memerlukan gelar sarjana.

Di Amerika Serikat sendiri ada survei yang dilakukan O*NET dan laporan Federal Reserve Bank of New York, yang mengecek apakah suatu pekerjaan sering memerlukan gelar sarjana atau tidak.

Ternyata banyak mahasiswa kuliah jurusan IPA maupun IPS, malah mendapatkan pekerjaan yang tidak membutuhkan keilmuan mereka.

Hanya sekitar 50 persen lulusan baru dari sejumlah jurusan yang berhasil memperoleh college-level job dalam tahun pertama setelah lulus.

Salah satu penyebab tingginya angka underemployment adalah kesenjangan antara sistem pendidikan dan kebutuhan industri.

Jadi jumlah lulusan S1 dinilai lebih banyak daripada jumlah pekerjaan yang tersedia bagi mereka.

Banyak jurusan masih fokus pada teori akademik, sementara dunia kerja kini lebih menuntut keterampilan teknis dan digital.

9 jurusan IPS yang lulusannya sulit cari kerja sesuai bidang

Menariknya, ada 11 jurusan yang memiliki tingkat underemployment cukup tinggi atau lulusannya sulit cari kerja.

Sementara untuk jurusan kuliah, hanya 2 jurusan IPA yang masuk dalam daftar. Sisanya justru jurusan IPS.

Walau begitu jangan berkecil hati jika jurusanmu ada dalam daftar ini. Sebab data ini berdasarkan survei yang dilakukan Federal Reserve Bank of New York.

Tentu saja survei ini akan berbeda hasilnya antar-negara. Hanya saja survei ini dapat digunakan sebagai gambaran bila lowongan kerja dibanyak industri ternyata sangat kompetetif.

Sehingga lulusan perguruan tinggi harus berusaha ekstra keras untuk menambah skill dan pengalaman sebelum lulus kuliah.

Berikut informasi mana saja jurusan IPS di perguruan tinggi yang lulusannya bekerja tidak sesuai bidangnya:

1. Peradilan Kriminal (Criminal Justice)

Jurusan Peradilan Kriminal (Criminal Justice) memiliki tingkat underemployment tertinggi, yakni mencapai 67,2 persen.

Di Indonesia, ilmu peradilan kriminal ini melebur dalam Jurusan Kriminologi atau Studi Peradilan Pidana.

Jurusan ini mempelajari kejahatan, perilaku kriminal, penyebabnya, dan bagaimana sistem peradilan pidana bekerja, mulai dari penegakan hukum, pengadilan, hingga lembaga pemasyarakatan.

Kalau di Amerika Serikat, banyak pekerjaan di sektor penegakan hukum, seperti petugas keamanan, polisi lokal, atau staf administrasi pengadilan, hanya memerlukan pelatihan teknis atau sertifikat khusus, bukan pendidikan S1 penuh.

Sementara di Indonesia, lulusan Jurusan Kriminologi atau Studi Peradilan Pidana masih bisa mendaftarkan diri di SIPSS Polri dan Perwira Prajurit Karier TNI yang memang dikhususkan untuk lulusan S1.

2. Seni Pertunjukan (Performing Arts)

Jurusan Seni Pertunjukan mencatat tingkat underemployment sebesar 62,3 persen. Lulusan bidang ini kerap bekerja di industri kreatif informal, seperti hiburan, pendidikan seni, hingga sektor pariwisata.

Walau begitu banyak lulusan jurusan ini bekerja di luar bidang seni. Meski begitu peluang menjadi seniman di Indonesia masih memungkinkan dengan bantuan digital dan media sosial.

3. Ilmu Humaniora (Humanities)

Jurusan Ilmu Humaniora menghadapi tingkat underemployment sekitar 56,5 persen. Lulusan bidang ini biasanya memiliki kemampuan analisis, menulis, dan berpikir kritis, tetapi tantangan muncul karena lapangan kerja spesifiknya terbatas.

Di Indonesia, secara spesifik tidak ada jurusan ilmu humaniora. Tetapi Jurusan humaniora di Indonesia mencakup berbagai program studi seperti sastra, sejarah, filsafat, linguistik, dan seni.

Untuk jurusan filsafat, linguistik, memang seringnya direkruit sebagai dosen dan peneliti. Sementara jurusan sastra dan sejarah, masih terbuka lebar pada lowongan CPNS (Calon Pegawai Negeri Sipil).

4. Antropologi (Anthropology)

Jurusan Antropologi mencatat underemployment sebesar 55,9 persen. Sebagian besar bekerja di bidang penelitian terapan, lembaga non-profit, atau perusahaan swasta di bagian riset pasar dan sumber daya manusia.

Jurusan ini dinilai tak banyak dibutuhkan industri, sebab terlalu spesifik.

5. Pariwisata dan Perhotelan (Hospitality and Tourism)

Jurusan Pariwisata dan Perhotelan mencatat tingkat underemployment sebesar 54,5 persen. Banyak lulusan bekerja di sektor layanan pelanggan, restoran, atau manajemen acara yang sebenarnya tidak memerlukan gelar S1.

Pemandu wisata, penyedia layanan jasa wisata, kebanyakan bisa diisi oleh orang yang tak punya gelar S1.

Karena itu, meskipun jurusan ini populer, sebagian besar lulusannya bekerja di posisi operasional atau manajerial bawah yang bisa diisi oleh lulusan non-sarjana.

6. Sosiologi (Sociology)

Jurusan Sosiologi memiliki tingkat underemployment sekitar 54,1 persen.

Bidang ini menekankan analisis sosial dan penelitian, tetapi lapangan pekerjaan spesifik seperti peneliti sosial atau analis kebijakan terbatas. Di Indonesia, jurusan sosiologi masih terbuka pada lowongan CPNS.

7. Ilmu Sosial Umum (General Social Sciences)

Jurusan Ilmu Sosial Umum memiliki tingkat underemployment serupa, yaitu 54,1 persen.

Karena sifatnya yang luas dan interdisipliner, banyak lulusan bekerja di bidang umum seperti pemasaran, pelayanan publik, atau administrasi.

Kurangnya spesialisasi membuat lulusan bidang ini kompetitif di berbagai sektor, tetapi juga sulit menembus pekerjaan yang secara langsung relevan dengan jurusan akademiknya.

Secara spesifik, Jurusan ilmu sosial umum mencakup berbagai bidang studi yang mempelajari manusia dan masyarakatnya. Seperti Sosiologi, Ilmu Politik, Antropologi, Geografi, Sejarah, Psikologi, Ekonomi, dan Hukum.

8. Kebijakan Publik dan Hukum (Public Policy & Law)

Jurusan Kebijakan Publik dan Hukum memiliki tingkat underemployment sebesar 53,9 persen.

Setelah lulus dari jurusan hukum, tak serta merta langsung bisa menjadi pengacara atau notaris. Sehingga harus melanjutkan pendidikan dahulu dan memerlukan waktu serta biaya yang cukup besar.

Sama halnya di Amerika, untuk posisi profesional di bidang tersebut umumnya memerlukan pendidikan lanjutan seperti law school atau master of public policy.

Tanpa kualifikasi tambahan, banyak lulusan jurusan ini bekerja di sektor swasta, lembaga nonprofit, atau posisi administratif yang tidak menuntut gelar sarjana hukum secara langsung.

9. Seni Rupa (Fine Arts)

Jurusan Seni Rupa mencatat tingkat underemployment sebesar 53,4 persen. Meskipun lulusan memiliki kemampuan kreatif tinggi, industri seni rupa di Amerika sangat kompetitif dan cenderung freelance.

Banyak lulusan bekerja di bidang desain grafis, penjualan, atau pendidikan seni informal untuk bertahan hidup secara finansial.

Keterbatasan lapangan kerja formal membuat jurusan ini termasuk dalam daftar dengan risiko underemployment tinggi.